Pengertian Globalisasi - Konsep dan fenomena

Globalisasi sebagai sebuah konsep dan fenomena baru yang paling sering digunakan dalam hubungan internasional (HI). Chandra (2007), menyebutkan bahwa, hampir tidak ada sebuah teks HI yang tidak menyertakan konsep globalisasi, sehingga kalau bisa dihitung “globalisasi” menjadi sebuah konsep yang paling banyak digunakan penstudi HI kontemporer dibanding, seperti, kedaulatan (Hermawan (ed), 2007: 129). Scholte (2000) mengatakan, globalisasi awal muncul dan berkembangnya pada tahun 1960-an pada saat masyarakat Eropa sepakat untuk bergabung dalam sebuah institusi yang menjadi cikal bakal supra territorial

Sejak tahun 1960-an globalisasi secara perlahan kemudian merubah pola interaksi banyak orang di dunia, hingga saat ini jutaan orang terus melakukan kontak dan bepergian dari satu wilayah dunia ke sudut dunia lainnya (Chandra, di dalam Hermawan, 2000: 133). Sedangkan studi tentang glibalisasi dimulai pada akhir abad 19, yang ditunjukkan oleh intensitas perdagangan anatarnegara yang meluas dan imigrasi serta investasi ekonomi meningkat, dan gejala globalisasi lain ditandai dengan ditemukan dan dipergunakannya secara meluas pesawat jet (untuk keperluan sipil) dan komputer (Hirt dan Thomson (1996), yang dikutip Chandra, di dalam Hermawan, 2007: 133). 

Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal atau dunia secara keseluruhan, sebelumnya global hanya diartikan “hal yang berhubungan dengan bola atau berbentuk bola” (Rudy,2003: 4). Globalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat, karena anggapan definisi globalisasi masih merupakan work definition, yaitu tergantung dari sisi mana orang memahami globalisi tersebut  (http://id.wikipedia.org/wiki/ Globalisasi, di akses pada 03 Juni 2008).

Scholte (2001), mengidentifikasi bahwa globalisasi bisa bermakna sebagai internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, westerenisasi. Makna internasionalisasi adalah meningkatnya intensitas intensitas interaksi lintas batas dan saling ketergantungan antarnegara. Liberalisasi dimaknai sebagai proses untuk memindahkan larangan-larangan yang dibuat oleh negara dalam rangka membentuk ekonomi dunia yang lebih terintegraasi. Konsepsi ketiga, universalisasi bermakna menyebarnya pelbagai macam obyek dan pengalaman dari masyarakat di seluruh dunia. Westerenisasi merupakan kritik bagi proses peniruan budaya Barat atau bahkan proses memaksakan sistem budaya, sistem politik dan sistem ekonomi negara-negara Barat dalam panggung dunia (Chandra, di dalam Hermawan, 2007: 131-132)Cochrane dan Pain, menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
  1. Globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
Sedangkan, Held (2000) perspektif globalis dinyatakan sebagai sebuah fenomena nyata perubahan signifikan dalam hubungan internasional. Dampak globalisasi bisa dirasakan dalam setiap aspek kehidupan manusia dimana saja dan berdampak besar bagi eksistensi, batas dan fungsi dari negara. Arus globalisasi membentuk kampung dunia (global village) yang cenderung membentuk kultur yang makin homogen (Chandra, di dalam Hermawan, 2007: 139).

a.    Globalis positif dan optimistismenanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.

b.    Globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
  1. Tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
  2. Transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi, di akses pada 03 Juni 2008)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Globalisasi - Konsep dan fenomena "

Post a Comment